Home | Review | DM Market | Places | News | Tips | Advetorial | Video | Gallery | Members


Kuliner Bandung | JUN 24, 2012
Tahu Sama Tahu

Tahu tak hanya bisa dinikmati dengan cara digoreng. Tahu bisa dinikmati dalam varian masakan dan makan an kecil. Tersebutlah tahu bodo, tahu buntel, dan ada pula cihu: aci campur tahu. Cihuy...!

Saat bertandang ke Bandung, cobalah mampir ke Warung Talaga di mal Paris van Java dan Cihampelas Walk. Anda yang menggemari tahu pasti akan terpuaskan oleh menu serba tahu yang disodorkan.

Di rumah makan yang ditata dengan nuansa warung zaman dulu ini ada makan an berat berbahan tahu yang bisa disantap saat perut benar-benar lapar. Ada nasi bakar dicampur tahu, tahu petis, nasi bakmoy, atau nasi bambu (nasi dibakar dalam bambu) yang disajikan lengkap dengan pepes tahu, ikan asin, lalap, dan sayur asam.

Kalau sekadar ingin ngemil, pilihannya lebih banyak. Ada tahu buntel, yaitu tahu yang dibungkus kulit pangsit lalu digoreng. Ada tahu kriuk berupa tahu yang digoreng kering. Ada pula campuran tahu dan aci yang disebut cihu. Dan, yang paling favorit adalah tahu bodo.

Tahu bodo ini sebenarnya sederhana, yaitu tahu goreng yang disajikan dengan sambal di dalam sebuah cobek. Namun, Fifi Yuliana, pemilik Warung Talaga, membuat menu ini lebih menarik. Fifi membuat variasi tingkat kepedasan, mulai dari sambal yang dibuat dari 3 cabai rawit, 4-6 cabai, 7-9 cabai, 10-14 cabai, dan 15 cabai. Karena cabai rawit yang digunakan berjenis cengek domba (cabai rawit dengan ukuran lebih besar dibandingkan dengan rawit biasa), pedas yang akan terasa di perut dijamin menohok lidah.

"Menu ini biasanya paling seru saat dipesan ramai-ramai. Bisa saling menantang siapa yang paling kuat pedas," kata Fifi yang menciptakan sendiri racikan sambalnya.

Khusus camilan, selain di rumah makan, Anda juga bisa menikmatinya di kedai kecil yang berada di area luar ruangan di Cihampelas Walk. Tempat berwujud seperti warung inilah yang sebenarnya lebih dulu didirikan dibandingkan dengan dua tempat lain yang menyajikan perpaduan makan an kecil dan makan an berat.

Selain di "warung", olahan tahu juga dijual di toko makan an kecil yang letaknya bersebelahan dengan pabrik tahu Talaga di Jalan Jenderal Sudirman. Variasi tahu di sini di antaranya keripik tahu, kembang tahu kering, batagor, nugget tahu, roll tahu (tahu yang dibungkus kembang tahu), serta olahan kacang kedelai, seperti susu, puding, dan yoghurt.

Tanpa pengawet
Kehadiran Warung Talaga di dua pusat perbelanjaan di Bandung serta satu tempat lain di Summarecon Mal Serpong 2, Tangerang, memang berawal dari sebuah pabrik tahu yang dulu dikenal dengan nama Yun Sen.

Pabrik yang berlokasi di dalam gang di pusat Kota Bandung ini sudah berdiri sejak 1923. Pendirinya adalah kakek Fifi, Liauw Pan Phin, yang berasal dari China dan menikah dengan perempuan Sunda yang disapa Fifi dengan panggilan Ma Ilot.

Sejak awal hingga sekarang, pembuatan manual masih dipertahankan dengan menggunakan bahan-bahan alami tanpa pengawet. Tahu bungkus yang berwarna putih dan berukuran besar, misalnya, dibuat dari susu kedelai dengan cara dibungkus kain satu per satu.

Satu hal yang berbeda hanyalah peralatan yang dulu sebagian besar dibuat dari kayu kali ini diganti dengan peralatan berbahan logam untuk menjaga higienitas bahan baku.

"Peralatan dan bahan harus benar-benar steril untuk menjaga kualitas tahu," kata Hendra Gunawan, saudara kandung Fifi, yang kini bertanggung jawab atas operasionalisasi pabrik.

Untuk membuktikan kebersihan produknya, Hendra kemudian meminta kami mencicipi tahu kuning mentah yang telah menjalani proses sterilisasi terakhir dengan cara direbus. Nikmat, dengan rasa kedelai yang segar dan sedikit rasa asin karena tambahan garam.

"Kalau ingin tahu kualitas tahu, coba saja cicipi selagi mentah. Tahu dengan kualitas bahan yang baik, tanpa bahan pengawet, akan terasa kedelainya yang segar," kata Hendra yang mengambil alih pengelolaan pabrik dari orangtuanya pada tahun 2000.

Sebagai pabrik yang sudah berusia puluhan tahun, produk tahu dari pabrik Talaga sudah cukup dikenal di Bandung. Para pelanggannya sudah terbiasa membeli tahu dengan datang langsung ke pabrik hingga sekarang.

Lantas, mengapa membuat toko dan warung?
"Kami ingin memperkenalkan berbagai olahan dari tahu kepada masyarakat, khususnya tahu yang berasal dari pabrik kami sendiri. Terkadang kita bingung, membeli tahu hanya diolah dengan cara digoreng. Adapun konsepnya dipilih warung supaya produk kami bisa dinikmati banyak kalangan," ujar Fifi.

Tahu, kan?



Source : http://www.kompas.com | Dibaca : 1957 |
Share |





Username
Password

  • Sign Up
  • Forgot Password
  • Kerjasama Bisnis

    Posting by: iwan05

    MIE AYAM TUNGGAL RASA, Yogyakarta

    Posting by: Redita Aliyah A. U

    more
    Desi Dwijayanti sonya herawan Toya Laraza Wiyoto Juwono Syscha Latiefa
    dini indriyani ratu gudeg Aira Atlantsyah wannuri flavia githa
    Agustina Haji Epe Redita Aliyah A. U buyung Marhamah

    more
    MAY 23, 2013 | Post By : Toya Laraza
    Kentoeng Ayam Suwir
    MAY 25, 2013 | Post By : lilian
    catering es puter seluruh jakarta
    MAY 21, 2013 | Post By : ratu gudeg
    gudeg di bintaro
    MAY 13, 2013 | Post By : iwan05
    Paket Usaha Ayam Tulang Lunak "GEROBAKAN"
    MAY 01, 2013 | Post By : Nova Wakary
    Bakmi Ayam Mutiara At Pasar MUCI deket dari Supermall Lippo Karawaci

    more


    Copyright © 2008 - 2013 PT. Doyan Makan All Rights Reserved.
    All articles, photos and images graphics are copyright protected.

    Contact Us